Pendidikan Bermuara Pada Cinta dan Kasih

Ketika seorang guru menerangkan materi kepada peserta didiknya, itu adalah sebuah proses pelaksanaan belajar dan mengajar. Namun hal tersebut hanya sebatas kelancaran dalam menyampaikan materi, namun belum tertuju pada titik keberhasilan dalam pembelajaran.

Guru akan menuai keberhasilan dalam menyampaikan materi pembelajaran apabila memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut:
  1. Dalam prosedur penyampaian materi, semua kompetensi dasar yang dijabarkan pada indikator disampaikan sesuai dengan rencana pembelajaran secara sistematis dan efektif.
  2. Memiliki inovasi dan kreatifitas dalam penyampaian materi baik dalam hal strategi, metode dan model pembelajaran serta penggunaan media pembelajaran berbasis IT dan atau tradisional.
  3. Suasana kelas dalam prosesnya dilaksanakan secara aktif dan kondusif atau suasana kelas terasa hidup
  4. Pelaksanaan evaluasi pembelajaran dilakukan secara prosedural, kondusif dan memenuhi target (menurut beberapa sumber data keberhasilan evaluasi pembelajaran dikatakan berhasil apabila dalam satu rombel (red: rombongan belajar) 75% memiliki nilai diatas KKM.
  5. Follow up materi dapat dilaksanakan secara maksimal pasca evaluasi pembelajaran. Misalnya guru melakukan observasi tata cara peserta didik berwudhu ketika menjelang sholat dhuhur berjama'ah, apakah sudah benar melakukannya atau belum. Bukan hanya mengacu pada penilaian dalam penguasaan materi atau praktek, melainkan juga observasi dalam mem follow up materi yang sudah dilaksanakan. Peserta didik masih ingat atau tidak?
Kriteria diatas adalah harapan umum semua guru ketika dalam pelaksanaannya baik dalam perencanaan hingga evaluasinya. Namun, setiap perencanaan hampir kurang dari 100% tidak sesuai dengan harapan. Misalnya dalam perencanaan, terkadang guru kurang menguasai pemilihan bahasa atau kalimat dalam menyusun indikator, metode & model, media, hingga menyusun kegiatan pembelajaran.

Selanjutnya dalam proses pembelajarannya, manajemen penguasaan kelas guru dikatakan sangat kurang, lebih-lebih penguasaan materi. Hal tersebut tidak jarang ditemui di beberapa kelas yang memang kegiatan belajarnya berakibat kurang maksimal. Pun demikian dalam evaluasi pembelajaran, lemahnya guru dalam penguasaan kompetensi pembuatan naskah soal yang tidak sesuai dengan indikator yang dibuat. Hal tersebut seperti halnya yang biasa ditemui oleh khalayak sekolahan yang sering melakukan oknum copy paste soal dari tahun satu ke tahun yang selanjutnya, sehingga terkadang guru kurang konsentrasi dalam hal ini perlu terdapat revisi naskah soal evaluasi/ ujian. Juga sering menjadi catatan bahwa berita acara penjagaan ujian, sering dijumpai hanya diisi dengan apa adanya, tanpa ada catatan-catatan yang sudah menjadi kebiasaan umum peserta didik, misalnya mencontek, ngrepek dll. Yang sudah semestinya mendapatkan peringatan dan catatan sebagai pertimbangan guru pengampu mata pelajaran/ kuliah dalam memberikan skor penilaian akhir.

Dari beberapa contoh hambatan diatas, maka juga sering ditemui, sosok guru sudah melakukan perencanaan dengan baik, manajemen kelas maupun penguasaan materi juga dilaksanakan dengan baik, serta pelaksanaan evaluasi juga dilakukan dengan baik, namun peserta didik pada hasil evaluasinya, kurang memahami, menguasai serta mengamalkan materi yang sudah disampaikan. Hal yang seperti ini siapakah yang akan disalahkan? Guru? Ataukah Peserta didik?

Perlu dipahami, kaidah pendidikan yang menjadi acuan utama dalam mendidik adalah letak keberhasilan peserta didik atau ketidakberhasilannya itu semua dikembalikan terhadap gurunya. Maksudnya rendahnya prestasi peserta didik itu juga menjadi tanggungjawab guru pengampunya. Atau dengan kata lain, juga menjadi gambaran ketidak berhasilnya guru dalam mengampu. Perlu ada evaluasi dari kurangnya salah satu kompetensi yang harus diperbaiki.

Maka perlu seorang guru menekankan pada pendekatan psikologis dengan memaksimalkan kompetensi pedagogiknya. Maksudnya apa? Maksudnya adalah seorang guru perlu senang dulu dalam menjalankan amanah kerjanya. Ketika guru senang, bukan lagi menjadi tuntutan melainkan menjadi kebutuhan untuk harus mentransfer ilmunya, bahkan menjadi hobinya untuk mengajar. Maka ia akan dengan mudah dan selalu haus untuk mengembangkan prestasi profesinya.

Selanjutnya, perlu seorang guru menanamkan rasa cinta terhadap muridnya, begitu juga seorang guru juga selalu berikhtiar agar peserta didik juga memiliki rasa cinta dengan gurunya dan mata pelajarannya. Maksudnya ialah, perlu adanya pendekatan secara khusus bagi guru terhadap peserta didiknya agar ia menyukainya dan mata pelajaran yang didampingi. Dengan cara apapun, seperti mengajaknya hang out bersama, bermain bola bersama bagaikan seorang bapak/ ibu bermain dengan anaknya. Setelah ia senang, maka peserta didik tumbuh rasa percaya dengan sendirinya terhadap gurunya sehingga disitu terdapat kenyamanan dalam proses pembelajaran.

Setelah muncul kenyamanan, maka guru dengan mudah untuk melepaskan tembakan kepada hati peserta didik agar cinta terhadapnya dan mata pelajarannya, sehingga ia haus dan selalu rindu akan waktu belajar mata pelajaran yang diampunya. Ketika ia sudah mencintai, maka bahasa dalam pembelajarannya bukan hanya menggunakan bahasa lisan belaka, melainkan bahasa qalbu juga menjadi rutinitas dalam belajar. Sebagai analogi, apabila aliran listrik konslet, maka sumber kebutuhan baik yang berupa primer maupun sekunder yang berhubungan dengan kelistrikan akan mati dan belum bisa digunakan. Begitu juga aliran listrik hati dengan bentuk cinta dan kasih, ia akan mengalir deras dan konsumen dalam memenuhi kebutuhannya akan dengan mudah untuk mengambil satu persatu ilmu yang diajarkan oleh gurunya.

Begitulah pendidikan, bukan hanya beberapa kompetensi yang harus dikuasai oleh guru, namun kepiawaian dalam menanamkan cinta kasih antar sesama dan saling gayung bersambut chemistry pembelajaran akan menciptakan suasana belajar yang efektif, inovatif, kreatif dan menyenangkan khususnya. Karena cinta kasih akan lahir para generasi penerus yang memiliki kredibilitas tinggi dan berprestasi baik dimasa muda maupun tua.

Perlu dicoba !!!!

Oleh: Alaika M. Bagus Kurnia PS, M. Pd (Dosen STIKES Surabaya)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mukaddimah Pendidikan Islam

Meraih Isra' Mi'raj; Momentum Memperbaiki Signal Kepada Allah Swt

Kuttab Al-Salam: Sebuah Metode Klasik Menghafal Al-Qur'an