Meraih Isra' Mi'raj; Momentum Memperbaiki Signal Kepada Allah Swt
Tepat pada tanggal 27 Rajab silam, setelah Rasulullah Saw ditimpa musibah, yaitu dua sosok kekasihnya dipanggil keharibaan Allah SWT, pamannya Abu Tholib dan Sayyidah Khodijah al-Kubro. Dan dua peristiwa tersebut dinamakan 'amm al-Hazn (Tahun berkabung).
Setelah kejadian tersebutlah, Allah SWT menghibur dengan memanggilnya untuk menemui-Nya. Dengan diutusnya malaikat Jibril as, Rasulullah diajak menuju Masjidil Aqsha terlebih dahulu. Inilah yang biasa disebut Isra'. Yaitu perjalanan dari Masjidil Haram (Makkah) menuju Masjidil Aqsha (Palestine). Singkatnya, ia diajak oleh Malaikat Jibril menuju ke langit ke 7 dan diperjalanan mi'raj inilah pemberangkatan Rasulullah Saw dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha.
Singkat cerita, Muhammad ketika hendak menuju langit ke-7, Jibril tidak diijinkan oleh Allah untuk mengantarkannya. Hanya Muhammad sendirilah yang bertemu dengan Allah SWT di langit ke-7 (Sidratul Muntaha). Disinilah banyak kaum muslim mempercayai bahwa awal kali sholat rowatib 5 waktu dilaksanakan setelah momen Isra' Mi'raj ini.
Beralih sedikit tentang Isra' Mi'raj, kalian juga perlu tahu tentang adanya handphone atau biasa orang menyebutnya dengan singkatan Handphone. Ia memiliki fungsi pokok telephone dan SMS. Ia juga disebut sebagai telephone genggam. Ia dapat digunakan ketika ada pulsa dan sekaligus harus ada Signal.
Sungguh sangat disayangkan walaupun ia punya pulsa banyak, namun berada di daerah yang sangat jarang ada Signal yang kuat. Ia akan kesana kemari untuk mencari arah signal tersebut. Dan juga sebaliknya apabila ia berada di daerah yang signalnya mendukung. Namun pulsanya habis. Ia akan mencari counter atau bakul pulsa.
Analogi diatas, penulis menggaris bawahi tentang cara kerja hp. Ketika Rasulullah Saw melakukan mi'raj dan bertemu Allah, ia tidak semata-mata hanya diutus untuk menunaikan sholat wajib 5 waktu dan disampaikan kepada ummatnya. Namun ritual shalat inilah, Rasulullah juga menancapkan tower signal disana.
Lantas apa fungsi signal yang dipasang oleh Rasulullah Saw disana?
Penulis pernah ingat tentang gerakan sholat yang diibaratkan oleh Muzayyin dalam gagasannya. Ia menyatakan, tanda orang hidup adalah sholat. Karena ciri khas kehidupan seseorang itu kadang diatas, kadang dibawah. Coba lihat ketika ia takbiratul ihram, maka posisi manusia berada diatas. Diteruskan ruku' ia mengibaratkan manusia dibawah. Orang tegak keatas (berdiri, i'tidal, duduk diantara dua sujud/ iftirosy, tahiyyat) adalah tanda orang hidup. Juga demikian ketika ruku' dan sujud. Itu adalah simbol mati.
Coba lihat orang sholat, ia bergerak naik turun. Orang hidup tandanya adalah gerak, ia naik, ia turun. Berbeda dengan orang mati. Yang hanya tegap tanpa gerak. Lihat saja ketika shalat jenazah, hanya ada 4 takbir tanpa gerak kebawah dan keatas sedikitpun. Hanya tangannya saja yang gerak. Ini adalah menandakan orang mati.
Maka perlulah manusia itu juga menguatkan signalnya kepada Allah SWT. Dengan cara apa? Mengistiqamahkan shalat 5 waktu semasa hidupnya. Karena cara untuk memperkuat signal dengan cara shalat sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Saw,"Shalatlah sebagaimana saya (Muhammad) shalat". Al-Hadits.
Pun demikian bagaimana kita untuk shalat? Perlu seorang mukallaf juga mempelajarinya sesuai dengan kaidah ahlussunnah wal jama'ah. Bagaimana? Tidak langsung membaca hadits atau buku-buku tanpa dibimbing oleh orang yang ahli (guru). Karena salah satu syarat orang belajar adalah إرشاد الأستاذ , maka perlu ia mencari guru. Disini 'ulama yang memiliki kejelasan sanad keilmuan (rantai riwayat keilmuan) menjadi prioritas utama dalam belajar. Rasulullah pun juga memberikan rekomendasi demikian. Yaitu,"ulama adalah pewaris para nabi".
Alih-alih dalam mencari ilmu kita memiliki adab atau tata Krama agar menghasilkan ilmu yang berkah. Yaitu takdhim kepada guru kita, menghormati keluarga guru kita, bersedekah kepada guru kita, serta berziarah kepada para 'alim 'ulama yang telah dahulu dipanggil oleh Allah SWT.
Dengan kesempurnaan pemahaman kita tentang shalat. Maka bagaikan kita mengetahui bagaimana caranya agar kita tahu dimana letak signal yang kuat. Dan bagaimana caranya agar signal tersebut muncul.
Alih-alih kita menziarahi orang-orang shaleh. Ia adalah panutan bagi masyarakat pada zamannya dan setelahnya. Ia juga memiliki hubungan yang baik kepada Allah SWT, lebih-lebih memiliki hubungan kekerabatan kepada Allah SWT. Dibandingkan dengan kita bagaimana? Apakah sekuat beliau-beliau yang dahulunya kuat signalnya? Maka urgensi dalam hal ziarah kubur ke maqbaroh orang-orang shaleh atau para kekasih-Nya, adalah dalam rangka agar signal kita kepada Allah SWT juga akan semakin tertular kuat sebab kedekatan kita kepada para kekasih Allah (Auliya' Allah).
Sudah dapat dipastikan, jika kita sudah mempunyai peluang yang bagus dalam menempatkan signal kita dengan sebaik mungkin. Apakah kita bisa juga untuk memanfaatkan hp kita untuk tetap selalu berkomunikasi kepada Allah Swt?
Lagi-lagi tanda orang hidup adalah shalat. Dan tanda orang mati adalah tidak shalat. Maka apa gunanya jika diri ini hanya diletakkan saja tanpa dipergunakan sebaik mungkin untuk berkomunikasi kepada Allah. Bagaikan hp yang sudah punya signal yang cukup dan pulsa yang cukup, namun ia tidak dipergunakan sama sekali.
Menjadi pekerjaan rumah bagi diri masing-masing. Dan menjadi introspeksi yang dalam bagi para penulis. Bagaimana dengan shalat kita? Apakah sudah sempurna? Apakah sudah Istiqomah?
Lalu, bagaimana keadaan signal kita ketika dipergunakan untuk shalat? Berada ditempat yang baguskah untuk signal tersebut? Maka perbaikilah 3 point tersebut.
- Jangan tinggalkan shalat sedikitpun. Usahakan tepat waktu, jika tidak tepat waktu, jangan sampai bolong-bolong, jika tidak sanggup, maka sekecil apapun niatkan shalat lima hurmat al-Waqt (hormat waktu) jika benar-benar tidak memungkinkan (darurat).
- Dekatilah sumber signal yang kuat, agar luka-liku komunikasi hamba dengan Allah terus berlanjut stabil dengan cara berziarah ke para auliya' (kekasih Allah) yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.
- Saling mengingatkan antara satu dengan yang lain. Karena satu muslim dengan muslim yang lain adalah saudara yang diibaratkan dengan suatu bangunan yang saling berkaitan. Sebagaimana juga shalat adalah pondasi agama. Bagaimana negeri ini dapat tentram dan makmur, apabila pondasi rumah belum kokoh, sebab masih ada bangunan pondasi yang belum kuat?.
Wallahu a'lam bi al-Shawab
Penulis: Alaika M Bagus Kurnia PS, M. Pd (Dosen DLB FTK UIN Sunan Ampel Surabaya)
Komentar
Posting Komentar