Lika-Liku Pendidikan Pada Kalangan Keluarga
Surabaya, Kesibukan kota yang sangat padat, dari sudut selatan hingga utara perkotaan sering kita melihat hiruk pikuk masyarakat untuk mengais rejeki kesana kemari demi mempertahankan kehidupannya. Sisi lain, karakter masyarakat kota adalah masyarakat yang terdidik, memiliki derajat akademik diatas rata-rata, serta berkehidupan modern.
Coba dilihat dari pagi hingga petang, anak-anak masuk sekolah pkl. 06.30 pagi, lalu merampungkan belajarnya pkl. 15.30 sore. Belum lagi ia melanjutkan les privat atau di LBB (Lembaga Bimbingan Belajar) yang disediakan karena kebutuhannya. ini adalah gambaran umum aktivitas anak-anak hingga remaja yang hidup di perkotaan. Selanjutnya, orang tua yang bekerja rata-rata masuk tempat kerja pkl. 08.00 sampai 17.00, ada juga perusahaan dengan menggunakan model shift-shift an, dan belum lagi yang mengambil waktu lembur kerja.
Gambaran diatas adalah aktifitas umum masyarakat perkotaan yang ada di Surabaya. Dengan berbagai macam asumsi masyarakat yang selalu beranggapan bahwa zaman sekarang jika tidak dengan uang, maka jangan beranggapan kamu akan bisa mendapatkan apa-apa. Inilah asumsi masyarakat kota, yang akhirnya kehidupannya sehari-hari terhipnotis dengan gaya para pencari dolar.
Jika kita pelajari, waktu orang tua untuk berjumpa dan bercengkrama dengan anaknya sangatlah sedikit. Kenapa bisa seperti itu? Sebab, jika anaknya berangkat sekolah, ia hanya bisa berkomunikasi dan menjalin hubungan emosional ketika seorang ayah/ ibu mengantarkan sekolah. Itupun jika diantrkan, namun apabila ia didaftarkan program antar jemput sekolah bagaimana? apakah hanya bertemu ketika sarapan ? Atau hanya malam hari? Lebih-lebih hanya pada saat liburan atau weekend? hal ini karena waktu bersamanya sangat kurang. Sebab anak berangkat pkl. 06.30 s/d 15.30, lalu salah satu dari mereka (orang tua) atau bahkan keduanya yang bekerja pkl. 08.00 hingga 17.00 sore. orang tua pulang, lagi-lagi anak belum pulang apabila ia privat/ les. Beruntung apabila ibunya tidak bekerja dan mengawasi anaknya.
Kasus-kasus seperti ini mayoritas dijumapi oleh penulis pada zaman milenial seperti ini. Artinya apa? artinya adalah investasi yang bersifat menggantung. Maksudnya bisa menjadi baik dan bisa menjadi buruk. Sebab kenapa? sepasang suami istri, jika diberi amanah oleh Allah Swt berupa anak. Maka itu adalah rizki baginya, anugerah baginya, dan patut kedua orang tua tersebut mensyukurinya dalam keadaan apapun. Bukan berarti penulis memberikan statement bahwa amanah anak yang berasal dari hubungan diluar nikah juga harus disyukuri karena juga anugerah dari Allah. Namun apabila anak hasil dari hubungan diluar nikah secara fiqh memiliki status perilaku yang dilarang oleh agama dan haram perbuatan tersebut. Dan anak tersebut jangan diharamkan pula. Karena anak itu juga takdir dari Allah Swt yang perlu dijaga dan dirawat hingga besar walaupun dalam prosesnya tidak baik.
Maka perlu jika ia diberi amanat oleh Allah seorang anak, ia patut menjaga dan merawatnya dalam keadaan apapun. Haram hukumnya jika ia menggugurkannya. ibarat ia tidak rela ada jabang bayi dalam kandungannya karena sebab hubungan diluar nikah, lalu ia berusaha menggugurkannya bagaikan pepatah sudah jatuh tertimpa tangga.
Kasus-kasus seperti ini mayoritas dijumapi oleh penulis pada zaman milenial seperti ini. Artinya apa? artinya adalah investasi yang bersifat menggantung. Maksudnya bisa menjadi baik dan bisa menjadi buruk. Sebab kenapa? sepasang suami istri, jika diberi amanah oleh Allah Swt berupa anak. Maka itu adalah rizki baginya, anugerah baginya, dan patut kedua orang tua tersebut mensyukurinya dalam keadaan apapun. Bukan berarti penulis memberikan statement bahwa amanah anak yang berasal dari hubungan diluar nikah juga harus disyukuri karena juga anugerah dari Allah. Namun apabila anak hasil dari hubungan diluar nikah secara fiqh memiliki status perilaku yang dilarang oleh agama dan haram perbuatan tersebut. Dan anak tersebut jangan diharamkan pula. Karena anak itu juga takdir dari Allah Swt yang perlu dijaga dan dirawat hingga besar walaupun dalam prosesnya tidak baik.
Maka perlu jika ia diberi amanat oleh Allah seorang anak, ia patut menjaga dan merawatnya dalam keadaan apapun. Haram hukumnya jika ia menggugurkannya. ibarat ia tidak rela ada jabang bayi dalam kandungannya karena sebab hubungan diluar nikah, lalu ia berusaha menggugurkannya bagaikan pepatah sudah jatuh tertimpa tangga.
Kembali pada pembahasan, orang tua hendaknya mengekspresikan syukurnya tersebut dengan dua hal. Yaitu merawatnya dengan layak dan mendidiknya dengan total. Usaha-usaha tersebut adalah bentuk syukur yang perlu menjadi perhatian khusus dan diperuntukkan kepada semua orang tua dan para pembaca atau calon orang tua nantinya.
Selanjutnya, agar pendidikan atau pembinaan anak dalam lingkup keluarga tidak serta merta dipukul rata semuanya dirasa berhasi. Sebab terkadang berhasil menurut persepsi orang tua masing-masing. Apabila ia sudah melihat anaknya sukses menjadi atasan di sebuah perusahaan, orang tuanyalah yang merasa berhasil. Namun dalam pengalaman spiritual sangat minim sekali. Ini yang menjadi problem tersendiri bagi seluruh civitas akademika yang melihat akhir-akhir ini banyak orang tua bangga, namun ternyata bangga akan karir anaknya. Sehingga apabila diperhatikan, akhlak dan aktivitas spiritualnya sangatlah jauh dari kata standar. Hal ini menyebabkan perlu mendapat perhatian yang cukup serius. Adapun kiat-kiat agar pendidikan dalam lingkup keluarga (informal) dapat berjalan dengan sukses, maka tahap-tahap pemilihan jodoh, dalam kandungan, masa anak-anak, remaja, dewasa hingga masa tua adalah fase-fase yang perlu dilalui dengan cara merawatnya dan mendidiknya secara totalitas.
Pemilihan Jodoh
Asumsi masyarakat, awal mula pendidikan keluarga adalah ketika istrinya sudah melahirkan. Dan itu merujuk pada sabda Rasulullah Saw, yaitu,"Carilah ilmu dari mulai timanngan hingga masuk liang lahat (meninggal)". Hadits tersebut adalah asumsi bagi masyarakat bahwa mendidik anak dimulai ketika anaknya sudah lahir dan sejak bayi. Anggapan tersebut perlu diluruskan. Penulis tidak menyalahkan. Dan masyarakat perlu membaca sabda Rasulullah Saw yang satunya, yaitu,"Nikahilah wanita karena empat hal; kecantikannya, nasab/ derajatnya, hartanya dan agamanya...al-Hadits". Sabda yang mendengungkan tersebut, adalah landasan penulis perlu meluruskan kepada semua bakal calon pengantin untuk lebih selektif lagi dalam meilih pasangannya. Alih-alih melihat dari background agamanya yang menjadi utama.
Maka tidaklah heran, fakta yang pernah kita jumpai adalah seorang kyai menjodohkan putra atau putrinya dengan anak kyai lain karena sekufu. Ia berharap, apabila putra atau putrinya menikah dengan si Fulan (anak kyai tersebut), akan menghasilkan generasi yang mampu meneruskan tongkat estafet pesantrennya.
Selanjutnya, bagi diri kita sendiri juga perlu lebih berhati-hati dalam berperilaku agar menjadi pribadi yang berkualitas. Sebab untuk menjadi idaman para calon pasangan adalah juga memperbaiki diri sendiri. Apabila kita tidak tampan atau cantik, maka pertimbangkanlah juga bagaimana latar belakang keluarga kita. Apakah dari keluarga yang terhormat baik Dimata agama atau masyarakat? Atau malah tercemar. Apabila kita tidak beruntung pada sisi nasab atau derajat, maka perbaikilah kondisi ekonomi kita. Minimal menjadi pribadi yang berkeadaban cukup secara Zahir. Dan selanjutnya yang lebih utama adalah keilmuan agama serta keajegan dalam beribadah. Sungguh sangat mustahil seorang gadis menerima pinangan orang yang jarang ditemui sholat, jarang menjalankan puasa ramadhan atau yang lainnya.
Maka, bagi para perjaka maupun gadis, perlu dimulai sejak dini untuk memperbaiki dirinya masing-masing sekaligus berlomba-lomba dalam kebaikan demi terciptanya generasi yang berkualitas sebab bahan baku yang berkualitas pula.
Mendidik Sejak Dalam Kandungan.
Seorang ibu adalah sosok makhluk yang diciptakan Allah SWT sebagai pahlawan tiada Tara sebab perjuangannya selama 9 bulan menggendong jabang bayinya tanpa meminta imbalan sepeserpun.
Mulai dari 1 sampai 9 bulan, ia muntah-muntah, ngidam mangga muda atau lainnya karena bawaan bayi, hingga proses persalinan. Semua dijalani demi keselamatan bayi yang ada dalam rahim.
Berbicara tentang rahim, maka penulis sedikit mengulas tentang rahim. Secara harfiah berasal dari bahasa Arab yang berarti kasih sayang. Coba lihat arti dari ayat Bismillahirrahmanirrahim. Yang di akhir katanya menunjukkan makna Maha Penyayang.
Maka secara hakikat, ibu yang ada dimanapun ia memiliki rahim. Didalamnya terdapat bayi yang sangat mungil dan lucu. Sebab lucunya bayi tersebutlah karena efek kasih sayang seorang ibu sejak dalam kandungan. Sentuhan pertama bayi inilah yang mengasihi serta memberikan rasa sayang kepadanya. Yaitu ibu.
Perlu seorang ibu juga mendidik didalam rahimnya karena sebab sayang kepada bakal anaknya kelak. Sebagaimana contohnya, apabila dikandungan seorang ibu malas untuk menunaikan sholat, selalu mendahulukan berfoya-foya dengan jalan-jalan, pergi ke mall, singkatnya adalah menyedikitkan waktunya untuk bertirakatr (proses mendekatkan diri kepada Allah), maka berlakulah hukum pepatahpepat jatuh tak jauh dari pohonnya. Lain halnya dengan seorang ibu yang selalu rajin beribadah, sholat tepat waktu dengan berjamaah, setiap pagi, sore dan petang membaca Al-Qur'an, tiap waktu-waktu tertentu diperingatinya dengan maksud syukuran agar terhindar dari balak atau bahaya seperti acara 3 bulanan, 7 bulanan dengan ritual mendoakan agar jabang bayi diberikan takdir yang baik oleh Allah SWT. Alhasil Istiqomah dalam membiasakan suasana religi semasa dalam kandungan, maka pembiasaan akan selalu dijadikan aturan non tertulis disitu. Sehingga suasana yang penuh islami dan warohmah akan tercipta didalamnya.
Akhirnya, penentu nasib Sholih atau tidaknya calon generasi penerusnya adalah dari orang tuanya. Khususnya adalah ibu. Dan begitupun juga dengan ayah, yang juga harus membantu untuk mensukseskan pendidikan dalam rahim. Sering-sering ayahnya menunaikan puasa Sunnah, memperbanyak berdoa dan membaca aurod (wirid-wirid) ijazah dari guru spiritualnya agar jabang bayi didalamnya kelak dapat meneruskan estafet keshalihan generasi sebelumnya.
Kegiatan syukuran dengan mengundang para tetangga atas ditakdirkan hamilnya seorang wanita dengan peringatan 3 bulanan, 7 bulanan adalah perbuatan yang bid'ah Hasanah. Dan itu baik. Bukan sebuah kemustahilan yang harus dihindari. Karena senjata satu-satunya orang mukmin adalah berdoa. Apalagi jika banyak yang mendoakan, pasti Allah akan mengabulkan doa baiknya itu. Lebih-lebih dibarengi dengan bersedekah seperti tradisi Jawa yaitu ater-ater berkat (mengirim sedikit rizki makanan yang diberikan oleh shohibul hajat).
Maka jelas hal tersebut bukan lagi anjuran bagi para calon orang tua. Namun sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan jika ia ingin menjadikan calon generasinya menjadi generasi yang islami.
Mendidik Anak Dimulai Sejak Dini.
Pembahasan yang terakhir pada episode ini, ketika bayi baru lahir, adalah sebuah kegiatan pendidikan secara langsung muyafahah antara pendidik utama, yaitu orang tua dengan bayinya. Sebab, pengenalan tauhid perlu dilakukan pada saat itu. Yaitu mengumandangkan adzan pada bayi tersebut.
Ia akan dikenalkan siapa Tuhannya? Siapa Nabinya? Apa yang harus selalu dilakukan bagi hamba kepada Tuhannya? Adzanlah hakikat dari pengajaran tersebut. Agar ia mengenal Allah sebagai Tuhannya, Muhammad adalah nabinya, dan sholat adalah sebuah amalan rutin yang tidak boleh ditinggalkan setiap hari sebab kewajibannya.
Perlu bagi orang tua memperhatikan pendidikan anaknya agar tercipta generasi yang berdedikasi tinggi serta berakhlak mulia. Yaitu sebagai berikut:
Selanjutnya, agar pendidikan atau pembinaan anak dalam lingkup keluarga tidak serta merta dipukul rata semuanya dirasa berhasi. Sebab terkadang berhasil menurut persepsi orang tua masing-masing. Apabila ia sudah melihat anaknya sukses menjadi atasan di sebuah perusahaan, orang tuanyalah yang merasa berhasil. Namun dalam pengalaman spiritual sangat minim sekali. Ini yang menjadi problem tersendiri bagi seluruh civitas akademika yang melihat akhir-akhir ini banyak orang tua bangga, namun ternyata bangga akan karir anaknya. Sehingga apabila diperhatikan, akhlak dan aktivitas spiritualnya sangatlah jauh dari kata standar. Hal ini menyebabkan perlu mendapat perhatian yang cukup serius. Adapun kiat-kiat agar pendidikan dalam lingkup keluarga (informal) dapat berjalan dengan sukses, maka tahap-tahap pemilihan jodoh, dalam kandungan, masa anak-anak, remaja, dewasa hingga masa tua adalah fase-fase yang perlu dilalui dengan cara merawatnya dan mendidiknya secara totalitas.
Pemilihan Jodoh
Asumsi masyarakat, awal mula pendidikan keluarga adalah ketika istrinya sudah melahirkan. Dan itu merujuk pada sabda Rasulullah Saw, yaitu,"Carilah ilmu dari mulai timanngan hingga masuk liang lahat (meninggal)". Hadits tersebut adalah asumsi bagi masyarakat bahwa mendidik anak dimulai ketika anaknya sudah lahir dan sejak bayi. Anggapan tersebut perlu diluruskan. Penulis tidak menyalahkan. Dan masyarakat perlu membaca sabda Rasulullah Saw yang satunya, yaitu,"Nikahilah wanita karena empat hal; kecantikannya, nasab/ derajatnya, hartanya dan agamanya...al-Hadits". Sabda yang mendengungkan tersebut, adalah landasan penulis perlu meluruskan kepada semua bakal calon pengantin untuk lebih selektif lagi dalam meilih pasangannya. Alih-alih melihat dari background agamanya yang menjadi utama.
Maka tidaklah heran, fakta yang pernah kita jumpai adalah seorang kyai menjodohkan putra atau putrinya dengan anak kyai lain karena sekufu. Ia berharap, apabila putra atau putrinya menikah dengan si Fulan (anak kyai tersebut), akan menghasilkan generasi yang mampu meneruskan tongkat estafet pesantrennya.
Selanjutnya, bagi diri kita sendiri juga perlu lebih berhati-hati dalam berperilaku agar menjadi pribadi yang berkualitas. Sebab untuk menjadi idaman para calon pasangan adalah juga memperbaiki diri sendiri. Apabila kita tidak tampan atau cantik, maka pertimbangkanlah juga bagaimana latar belakang keluarga kita. Apakah dari keluarga yang terhormat baik Dimata agama atau masyarakat? Atau malah tercemar. Apabila kita tidak beruntung pada sisi nasab atau derajat, maka perbaikilah kondisi ekonomi kita. Minimal menjadi pribadi yang berkeadaban cukup secara Zahir. Dan selanjutnya yang lebih utama adalah keilmuan agama serta keajegan dalam beribadah. Sungguh sangat mustahil seorang gadis menerima pinangan orang yang jarang ditemui sholat, jarang menjalankan puasa ramadhan atau yang lainnya.
Maka, bagi para perjaka maupun gadis, perlu dimulai sejak dini untuk memperbaiki dirinya masing-masing sekaligus berlomba-lomba dalam kebaikan demi terciptanya generasi yang berkualitas sebab bahan baku yang berkualitas pula.
Mendidik Sejak Dalam Kandungan.
Seorang ibu adalah sosok makhluk yang diciptakan Allah SWT sebagai pahlawan tiada Tara sebab perjuangannya selama 9 bulan menggendong jabang bayinya tanpa meminta imbalan sepeserpun.
Mulai dari 1 sampai 9 bulan, ia muntah-muntah, ngidam mangga muda atau lainnya karena bawaan bayi, hingga proses persalinan. Semua dijalani demi keselamatan bayi yang ada dalam rahim.
Berbicara tentang rahim, maka penulis sedikit mengulas tentang rahim. Secara harfiah berasal dari bahasa Arab yang berarti kasih sayang. Coba lihat arti dari ayat Bismillahirrahmanirrahim. Yang di akhir katanya menunjukkan makna Maha Penyayang.
Maka secara hakikat, ibu yang ada dimanapun ia memiliki rahim. Didalamnya terdapat bayi yang sangat mungil dan lucu. Sebab lucunya bayi tersebutlah karena efek kasih sayang seorang ibu sejak dalam kandungan. Sentuhan pertama bayi inilah yang mengasihi serta memberikan rasa sayang kepadanya. Yaitu ibu.
Perlu seorang ibu juga mendidik didalam rahimnya karena sebab sayang kepada bakal anaknya kelak. Sebagaimana contohnya, apabila dikandungan seorang ibu malas untuk menunaikan sholat, selalu mendahulukan berfoya-foya dengan jalan-jalan, pergi ke mall, singkatnya adalah menyedikitkan waktunya untuk bertirakatr (proses mendekatkan diri kepada Allah), maka berlakulah hukum pepatahpepat jatuh tak jauh dari pohonnya. Lain halnya dengan seorang ibu yang selalu rajin beribadah, sholat tepat waktu dengan berjamaah, setiap pagi, sore dan petang membaca Al-Qur'an, tiap waktu-waktu tertentu diperingatinya dengan maksud syukuran agar terhindar dari balak atau bahaya seperti acara 3 bulanan, 7 bulanan dengan ritual mendoakan agar jabang bayi diberikan takdir yang baik oleh Allah SWT. Alhasil Istiqomah dalam membiasakan suasana religi semasa dalam kandungan, maka pembiasaan akan selalu dijadikan aturan non tertulis disitu. Sehingga suasana yang penuh islami dan warohmah akan tercipta didalamnya.
Akhirnya, penentu nasib Sholih atau tidaknya calon generasi penerusnya adalah dari orang tuanya. Khususnya adalah ibu. Dan begitupun juga dengan ayah, yang juga harus membantu untuk mensukseskan pendidikan dalam rahim. Sering-sering ayahnya menunaikan puasa Sunnah, memperbanyak berdoa dan membaca aurod (wirid-wirid) ijazah dari guru spiritualnya agar jabang bayi didalamnya kelak dapat meneruskan estafet keshalihan generasi sebelumnya.
Kegiatan syukuran dengan mengundang para tetangga atas ditakdirkan hamilnya seorang wanita dengan peringatan 3 bulanan, 7 bulanan adalah perbuatan yang bid'ah Hasanah. Dan itu baik. Bukan sebuah kemustahilan yang harus dihindari. Karena senjata satu-satunya orang mukmin adalah berdoa. Apalagi jika banyak yang mendoakan, pasti Allah akan mengabulkan doa baiknya itu. Lebih-lebih dibarengi dengan bersedekah seperti tradisi Jawa yaitu ater-ater berkat (mengirim sedikit rizki makanan yang diberikan oleh shohibul hajat).
Maka jelas hal tersebut bukan lagi anjuran bagi para calon orang tua. Namun sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan jika ia ingin menjadikan calon generasinya menjadi generasi yang islami.
Mendidik Anak Dimulai Sejak Dini.
Pembahasan yang terakhir pada episode ini, ketika bayi baru lahir, adalah sebuah kegiatan pendidikan secara langsung muyafahah antara pendidik utama, yaitu orang tua dengan bayinya. Sebab, pengenalan tauhid perlu dilakukan pada saat itu. Yaitu mengumandangkan adzan pada bayi tersebut.
Ia akan dikenalkan siapa Tuhannya? Siapa Nabinya? Apa yang harus selalu dilakukan bagi hamba kepada Tuhannya? Adzanlah hakikat dari pengajaran tersebut. Agar ia mengenal Allah sebagai Tuhannya, Muhammad adalah nabinya, dan sholat adalah sebuah amalan rutin yang tidak boleh ditinggalkan setiap hari sebab kewajibannya.
Perlu bagi orang tua memperhatikan pendidikan anaknya agar tercipta generasi yang berdedikasi tinggi serta berakhlak mulia. Yaitu sebagai berikut:
- Secara Istiqomah mengajarkan Al-Qur'an sedini mungkin. Baik dalam membacanya maupun mempelajari kandungannya.
- Membiasakan gemar pergi ke tempat ibadah. Walaupun ia selalu bikin gaduh karena hakikat anak kecil lebih sering melakukan aktivitas motoriknya.
- Istiqomah dalam membiasakan bersedekah.
- Tidak bosan-bosan dalam menasehati dalam hal apapun, lebih-lebih dalam berakhlak terhadap sesama temannya dan selektif dalam memilih teman.
- Dekatkanlah selalu dekat dengan kaum Sholihin / orang-orang sholih. Seperti para auliya', 'ulama, gurunya dengan mengajarkannya gemar untuk bersilaturrahmi dan takdhim kepada gurunya, karena guru adalah orang tua kedua setelah orang tua kandungnya, dan Istiqomah dalam menziarahi makam atau maqbaroh para auliya' yang telah meninggal dunia. Seperti ziaroh kubur. Karena mencari wasilah keberkahannya.
- Dibiasakan selalu berbakti kepada orang tua.
- Dibiasakan selalu menghadiri majelis ilmu maupun dzikir.
Jika pembiasaan diatas dilaksanakan secara Istiqomah, tidak heran ia akan selalu melaksanakan dan gemar sebagaimana contoh diatas, maka sasaran yang diharapkan akan tercapai.
Pengajaran, pendidikan dan pembiasaan adalah modal awal dalam pendidikan. Anak baik dirumah, lingkungan masyarakat serta sekolah. Maka orang tua juga perlu selektif dalam mengontrol anaknya dalam memilih teman bermain, serta menentukan ia akan disekolahkan dimana?
Lembaga Pendidikan Islam berbasis sekolah dengan model sekuler lah menjadi alternatif terakhir bagi orang tua apabila menginginkannya setelah pilihannya tidak pada pondok pesantren. Hingga saat ini, menurut Yahya Aziz, kurikulum dan metode pendidikan yang tepat di Indonesia adalah pondok pesantren. Disitulah ditawarkan bagaimana ia mampu mendalami ilmu agama, berkarakter mandiri, sopan dan santun, hingga mampu mencetak calon cendekiawan.
Pesantren adalah alternatif selanjutnya apabila orang tua kurang mampu mendidiknya dengan totalitas. Menurut Ainur Rohmah, anak perlu didoakan tiap tengah malam, perlu dididik dan tidak bosan-bosannya dalam menasehati serta melatih keterampilannya. Namun jika orang tua tidak mampu karena faktor pekerjaan, maka serahkanlah ia kepada para kyai atau pengasuh pesantren. Karena para kyai atau ibu nyai, dimalam harinya ia mendoakan dan disiangnya, ia memberikan ilmu yang dikuasainya. Disinilah analogi orang menimba air di dalam sumur. Semakin lama ia menimba sumur karena dalamnya lubang yang tersedia, maka semakin banyak air yang didapatkannya karena lamanya ia mengambil.
Wallahu a'lam bi al-Showab.
Oleh: Alaika M Bagus Kurnia PS, M. Pd (Dosen DLB UIN Sunan Ampel Surabaya)
Oleh: Alaika M Bagus Kurnia PS, M. Pd (Dosen DLB UIN Sunan Ampel Surabaya)

alhamdulillah... semoga keluarga kita termasuk golongan ashabul yamin yang berasal dari keluarga illiyyin yang selalu melewati sisi kanan abul basyar
BalasHapus